1. Tahap Sensori-Motor (0-2)
Inteligensi
sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence),
yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu
berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap
ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat
berarti untuk menjadi fundasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki
anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence.
Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia
dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18
– 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara
bertahap dan sistematis.
2.
Tahap Pra Operasional (2–7)
Pada
tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence.
Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda
yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau
sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi, pandangan terhadap
eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor,
yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ditandai
oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk
mengembangkan diferred-imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa,
dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan
kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.
3.
Tahap konkret-operasional (7-11)
Pada
periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of
operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan
pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri.
Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah
sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan
kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru
mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang
konkret.
4.
Tahap formal-operasional (11-dewasa)
Pada periode ini seorang remaja
telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun
berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu :
Kapasitas menggunakan hipotesis;
kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah
dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia
respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
Kapasitas menggunakan
prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran
yang abstrak secara luas dan mendalam.
Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di
penghujung masa remaja akhir. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50
tahun, dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun
selanjutnya berangsur menurun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar